Dalam memahami sebuah bahasa seorang manusia mengalami beberapa macam cara, diantara cara-cara tersebut terkandung dalam sebuah Hipotesis. Berikut ini adalah beberapa Hipotesis penguasaan bahasa :

hipotesis bahasa
Hipotesis Krashen
Berkenaan dengan proses pemerolehan bahasa, Stephen Krashen mengajukan Sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Kesembilan hipotesis itu adalah :
1. Hipotesis perbedaan antara pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning)
2. Hipotesis urutan alamiah
3. Hipotesis monitor
4. Hipotesi masukan
5. Hipotesis efektif
6. Hipotesis bakat
7. Hipotesis filter
8. Hipotesis bahasa pertama
9. Hipotesis variaso individual dalam penggunaan monitor.

1. Hipotesis Pemerolehan dan belajar
Menurut hipotesis ini dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan (acquisition) dan belajar (leraning). Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terencana. Proses pemerolehan tidak melalui usaha belajar yang formal atau eksplisit. Sebaliknya yang formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari, terutama yangberkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa. Belajar terutama terjadi atau berlangsung dalam teks.
2. Hipotesis Urutan Alamiah
Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kanak-kanak memperoleh unsure-unsur bahasa mmenurut urutan tertentu yang dapat diprediksikan. Urutan ini bersifat alamiah. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pemerolehan unsure-unsur bahasa yang relative stabil untuk bahasa pertama, bahasa kedua, maupun bahasa asing.
3. Hipotesis Monitor
Hipotesis monitor ini menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan bahasa. Proses sadar menghasilkan hasil belajar dan proses bawah sadar menghasilkan pemrolehan. Kita dapat berbicara dalam bahasa tertentu adalah karena system yang kita miliki sebagai hasil dari pemerolehan, dan bukan dari hasil belajar. Semua kaidah tata bahasa yang kita hafalkan tidak selalu membantu kelancaran dalam berbicara. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performansi) berbahasa.
4. Hipotesis masukan
Hipotesis ini menyatakan bahwa seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami yaitu degan memusatkan perhatian pada pesan atau isi dan bukannya pada bnetuk. Hal ini berlaku bagi semua orang deswasa maupun kanak-kanak, yang sedang belajar bahasa. Hipotesis ini juga menyatakan bahwa kegiatan mendengarkan untuk memahami isi wacana sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa dan penguasaan bahasa secara aktif akan dating pada waktunya nanti.
5. Hipotesis Efektuf (Sikap)
Hipotesis ini menyatakan bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap yang lain. Seseorang dengan kepribadian terbuka dan hangat akan lebih berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan orang dengan kepribadian yang agak tertutup.
6. Hipotesis Pembawaan (Bakat)
Hipotesis ini menyatakan bahwa bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua. Krashen menyatakan bahwa sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua, sedangkan bakat berhubungan dengan belajar. Mereka hanya mendapat nilai tinggi dalam tes bakat bahasa, pada umumnya berhasil baik dalam tes tata bahasa. Jadi aspek ini banyak berkaitan dengan beljar, dan bukan dengan pemerolehan.
7. Hipotesis Filter Afektif
Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah filter yang bersifat efektif dapat menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh bahasa kedua. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang, situasi yang menegangkan, sikap defensive dan sebagainya, yang dapat mengurangi kesempatan bagi masukan (input) untuk masuk kedalam system bahasa yang dimiliki seseorang. Filter efektif ini lazim juga disebut mental block.


8. Hipotesis Bahasa Pertama
Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seseorang anak pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau berbicara dalam bahasa kedua. Maka dia akan menggunakan kosa kata dan aturan tata bahasa pertamanya. Oleh katena itu sebaiknya guru tidak terlalummemaksa siswanya untuk menggunakan bahasa kedua yang sedang dipelajarinya. Berilah kesempatan pada anak untuk mendapatkan input yang bermakna dan untuk mendapatkan input yang bermakna dan untuk mengurangi filter efektifnya. Dengan demikian, penguasaan bahasa kedua dengan sendirinya akan belangsung pada waktunya.
9. Hipotesis Variasi Individual Penggunaan Monitor.
Hipotesisi ini, yang berkaitan dengan hipotesis ketiga (hipotesis monitor), menyatakan bahwa cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata bervariasi. Ada yang terus-menerus menggunakannya secara sistematis, tetapi ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Namun diantara keduanya ada pula yang menggunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau kesempatan untuk menggunakannya.

Hipotesis Bahasa Antara
Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa/ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. Bahasa antara ini bersifat khas dan mempunyai karakterestik tersendiri yang tidak sama dengan bahasa pertama dan bahasa kedua. Tampaknya, semacam perpindahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua.
Bahasa antara ini merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Artinya, bahasa ini merupakan kumpulan atau akumulasi yang terus-menerus dari suatu proses pembentukan penguasaan bahasa.
Pad awalnya pernyataan hipotesis bahasa antara cenderung berasumsi bahwa kontinum itu berupa penstrukturan kembali, seperti yang diungkapkan oleh Nemser (1971 : 59). Akan tetapi setelah peranan Bahasa Indonesia mulai dipertanyakan pandangan ini mulai kurang menarik. Bahasa antara dipandang sebagai kontinum penmgkreasian kembali (Ellis 1986 : 54). Penelitian empiris berperan sekali dalam pergantian pandangan tersebut, seperti yang telah dilaksanakan oleh Dulay & Burt (1975).
Sejak pandangan bahasa antara mengacu kepada kontinum pengkreasian kembali, titik awal bahasa anatara menjadi persoalan utama. Jika pembelajar membangun bahasa antaranya secara berangsur-angsur dalam meningkatkan kompleksitas system bahasa yang diperolehnya, apa yang digunakan sebagai titik awalnya ? Corder (dalam Ellis 1986 : 70) mempertimbangkannya dalam dua kemungkinan,
Pertama, pembelajar sejak semula belajar seperti bayi yang memperoleh bahasa ibnya. Namun Corder mengungkapkankemungkinan ini sangat kecil sebab tidakl mungkin keseluruhan proses pemerolehan bahasa akan diulang (direplikasi).
Kedua, pebelajar memulainya dari beberapa tata bahasa dasar sederhana (some basic simple grammer). Menurutnya, pebelajar mundur ketahap yang lebih awal dalam perkembangan linguistic mereka sebelum memulai proses penyebaran atau perluasan. Menurut Ellis (1986 : 70) tidak perlu mendudiukkan pebelajar kedalam tahap pemerolehan paling awal. Menurutnya, pada awalnya adalah pemerolehan kosa kata awal ini digunakannya dalam ujarannon gramatikal. Makna yang dimaksudkan pebelajar dibantu melalui informasi yang diberikan oleh orang lain (pendengar) dan konteks situasi. Dengan kata lain, permulaannya adalah pengetahuan pebelajar tentang bagaimana memperoleh pesan tanpa bantuan tata bahasa. Proses yang sama dibuktikan dalam ujaran penutur asli yang ditujukan kepada pebelajar B2 untuk memudahkan komunikasi.

Hipotesis Pijinisasi
Hipotesis ini menyatakan bahewa dalam proses belajar bahasa kedua, bias saja selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga yang disebut bahasa pijin (pidgin), yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa sendiri. Jadi bias dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli (Chaer dan Agustina, 1995).

0 komentar:

Poskan Komentar